Teleskop Baru NASA Mulai Memburu Dark Matter 2026

teleskop
87 / 100 Skor SEO

agfenerji – Manusia sudah menghabiskan ratusan tahun menatap langit, membuat teleskop semakin besar, mengirim observatorium ke luar angkasa, lalu memotret galaksi yang jaraknya miliaran tahun cahaya.

Anehnya, setelah semua kemajuan tersebut, kita masih tidak benar-benar mengetahui sebagian besar isi alam semesta.

Bintang yang kita lihat saat malam, planet, debu kosmik, manusia, Bumi, Matahari sampai galaksi sebenarnya hanya mewakili sebagian kecil dari keseluruhan kosmos.

Sisanya jauh lebih misterius.

Ada sesuatu yang disebut dark matter atau materi gelap. Ia tidak memancarkan cahaya, tidak memantulkan cahaya dan sejauh yang kita ketahui tidak bisa dilihat menggunakan teleskop seperti kita melihat sebuah bintang.

Namun gravitasinya ada.

Galaksi bergerak seolah ada massa tambahan yang tidak terlihat.

Cahaya dari galaksi jauh melengkung ketika melewati wilayah yang tampaknya kosong.

Struktur kosmik terbentuk dengan cara yang sulit dijelaskan apabila kita hanya menghitung materi yang dapat dilihat.

Kemudian ada dark energy, sesuatu yang bahkan lebih aneh dan diduga berhubungan dengan mengapa ekspansi alam semesta justru semakin cepat.

NASA sekarang mengirim sebuah teleskop baru untuk menyelidiki dua misteri tersebut.

Namanya Nancy Grace Roman Space Telescope, atau cukup disebut Roman Space Telescope.

Dan ini bukan lagi proyek yang masih menunggu beberapa tahun.

Pada Minggu, 30 Agustus 2026 pukul 07.26 EDT, Roman resmi meluncur dari Launch Complex 39A di Kennedy Space Center, Florida, menggunakan roket SpaceX Falcon Heavy.

Sekarang teleskop tersebut sedang melakukan perjalanan hampir satu juta mil menuju rumah barunya di ruang angkasa.

Kalau semuanya berjalan sesuai rencana, Roman akan menjadi salah satu mesin pemetaan alam semesta paling kuat yang pernah dibuat manusia.

Namun ada satu hal yang perlu diluruskan sejak awal.

NASA tidak akan membuka sebuah kotak lalu menemukan sebongkah dark matter.

Roman bekerja lebih mirip detektif.

Ia akan mencari dark matter melalui jejak gravitasi yang ditinggalkan sesuatu yang tidak bisa kita lihat.

Teleskop Roman NASA Resmi Meluncur

Peluncuran Roman menjadi salah satu momen astronomi terbesar 2026.

Falcon Heavy membawa teleskop tersebut meninggalkan Kennedy Space Center pada 30 Agustus. Sekitar setengah jam setelah peluncuran, Roman dipisahkan dari roket dan mulai melakukan perjalanan menuju titik Lagrange Matahari-Bumi kedua atau L2.

Jaraknya sekitar 930.000 mil atau hampir 1,5 juta kilometer dari Bumi.

Perjalanan tersebut membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk mencapai kawasan L2, sementara keseluruhan fase perjalanan dan commissioning awal berlangsung sekitar tiga bulan.

Setelah berbagai instrumen dibuka, dikalibrasi dan diperiksa, Roman dapat mulai memasuki periode operasional ilmiahnya.

NASA menargetkan gambar ilmiah pertamanya muncul pada awal 2027.

Yang cukup menarik, Roman justru berhasil diluncurkan jauh lebih cepat dibandingkan jadwal maksimum awal proyeknya.

NASA sebelumnya mempunyai komitmen peluncuran paling lambat Mei 2027. Tetapi penyelesaian observatorium berlangsung lebih cepat sehingga peluncurannya bisa dilakukan pada Agustus 2026, sekitar sembilan bulan lebih awal dari jadwal komitmen tersebut.

Sekarang setelah sukses meninggalkan Bumi, ujian berikutnya dimulai.

Kenapa Roman Disebut Teleskop Pemburu Dark Matter?

Sebutan “pemburu” sebenarnya sedikit dramatis.

Roman tidak melihat dark matter secara langsung.

Justru itulah inti misterinya.

Dark matter disebut “dark” bukan karena warnanya hitam seperti batu bara.

Ia disebut gelap karena tidak berinteraksi dengan cahaya seperti materi biasa.

Kita tidak melihatnya bersinar.

Tidak melihatnya menyerap cahaya dengan cara biasa.

Tidak memotretnya seperti planet atau bintang.

Jadi kalau benda tersebut tidak terlihat, bagaimana astronom tahu ia ada?

Jawabannya adalah gravitasi.

NASA menjelaskan bahwa dark matter dapat dideteksi melalui pengaruh gravitasinya terhadap materi dan cahaya yang bisa kita amati.

Bayangkan Anda melihat tirai bergerak.

Anda mungkin tidak melihat orang yang bersembunyi di baliknya.

Tetapi gerakan tirai memberi petunjuk bahwa ada sesuatu di sana.

Dark matter mirip seperti itu.

Kita tidak melihat bendanya.

Kita melihat apa yang dilakukannya terhadap lingkungan sekitar.

Cahaya Galaksi Akan Menjadi “Sensor” Dark Matter

Senjata utama Roman untuk urusan ini adalah fenomena bernama gravitational lensing.

Albert Einstein melalui relativitas umum menunjukkan bahwa massa dapat melengkungkan ruang-waktu.

Ketika cahaya dari sebuah galaksi jauh melewati objek bermassa besar, lintasan cahaya tersebut ikut melengkung.

Hasilnya bisa sangat dramatis.

Pada strong gravitational lensing, sebuah galaksi jauh bisa terlihat sebagai lengkungan cahaya panjang atau bahkan muncul beberapa kali akibat gravitasi objek di depannya.

Namun Roman juga akan memanfaatkan sesuatu yang jauh lebih halus:

weak gravitational lensing.

Distorsinya begitu kecil sehingga kita tidak bisa melihatnya dengan mata pada satu galaksi saja.

Tetapi jika Roman memotret jutaan sampai ratusan juta galaksi kemudian para astronom menganalisis bentuknya secara statistik, pola distorsi mulai terlihat.

Dari sana peneliti bisa menyimpulkan berapa banyak massa yang berada di sepanjang jalur cahaya tersebut.

Termasuk massa yang tidak menghasilkan cahaya.

Dark matter.

NASA menjelaskan bahwa Roman akan menggunakan weak gravitational lensing untuk melacak bagaimana gumpalan dark matter kecil mengubah bentuk semu galaksi yang berada jauh di belakangnya.

Hasil akhirnya bisa berupa semacam peta tiga dimensi materi gelap dalam skala kosmik.

Roman Bisa Memetakan Materi Gelap pada Ratusan Juta Galaksi

Inilah kenapa Roman membutuhkan kemampuan melihat wilayah langit yang sangat luas.

Untuk mempelajari dark matter melalui weak lensing, satu atau dua galaksi tidak cukup.

Astronom membutuhkan sampel sangat besar.

Roman dirancang mengukur lokasi dan jumlah materi biasa serta dark matter pada ratusan juta galaksi.

Dalam keseluruhan misinya, Wide Field Instrument Roman bahkan berpotensi mengukur cahaya dari sekitar satu miliar galaksi.

Angkanya sulit dibayangkan.

Satu miliar galaksi.

Dan satu galaksi seperti Bima Sakti sendiri memiliki ratusan miliar bintang.

Jadi Roman bukan teleskop yang tugas utamanya menatap satu benda selama berhari-hari.

Kekuatannya ada pada kemampuan melihat alam semesta dalam jumlah besar.

Ia menjadi seperti surveyor kosmik.

Kalau Sudah Ada Hubble dan James Webb, Kenapa Butuh Roman?

Pertanyaan ini cukup masuk akal.

NASA sudah punya Hubble.

Kemudian kita punya James Webb Space Telescope yang menghasilkan gambar sangat detail dari alam semesta awal.

Kenapa menghabiskan miliaran dolar lagi?

Karena teleskop-teleskop tersebut mempunyai pekerjaan berbeda.

James Webb luar biasa ketika astronom ingin melihat objek tertentu dengan sangat dalam.

Roman dibuat untuk melihat luas.

Cermin utama Roman berdiameter 2,4 meter, sama dengan ukuran cermin utama Hubble.

Namun Wide Field Instrument miliknya memiliki field of view setidaknya 100 kali lebih luas dibandingkan Hubble.

Secara sederhana, satu gambar Roman dapat memberikan detail setara Hubble tetapi meliputi area langit yang kira-kira membutuhkan sekitar seratus gambar Hubble.

Kalau Hubble seperti memotret alam semesta menggunakan lensa telephoto berkualitas luar biasa, Roman seperti memasang sensor panorama sangat besar di belakangnya.

Itulah yang dibutuhkan untuk memetakan galaksi dalam jumlah masif.

Kameranya Hampir 300 Megapixel

Pekerjaan besar Roman ditangani terutama oleh instrumen bernama Wide Field Instrument atau WFI.

NASA menyebut kameranya memiliki resolusi sekitar 288 megapixel dan bekerja terutama pada panjang gelombang near-infrared.

Near-infrared penting karena memungkinkan astronom mengamati objek jauh dan melihat melalui sebagian debu kosmik yang menyulitkan pengamatan cahaya tampak.

Tetapi angka megapixel sebenarnya bukan cerita terbesarnya.

Kombinasi antara resolusi, kualitas optik dan area pandanglah yang membuat Roman berbeda.

NASA menyebut WFI mampu melakukan survei langit hingga sekitar 1.000 kali lebih cepat daripada Hubble untuk jenis pengamatan tertentu.

Bayangkan Hubble membutuhkan seribu kali pemotretan atau waktu observasi untuk pekerjaan tertentu.

Roman didesain menjadi mesin yang jauh lebih efisien untuk survei skala besar.

Dan ketika Anda ingin mencari jejak dark matter di ratusan juta galaksi, kecepatan itu sangat penting.

Dark Matter Sebenarnya Ada Berapa Banyak?

Salah satu bagian yang cukup membuat kepala pening adalah materi yang kita kenal ternyata minoritas.

Materi biasa yang membentuk atom, manusia, planet, bintang dan galaksi hanya menyumbang sebagian kecil dari isi kosmos.

NASA menjelaskan dark matter menyusun sekitar 27 persen alam semesta, sementara materi normal hanya sekitar lima persen.

Sisanya didominasi dark energy.

Jadi seluruh benda yang pernah kita lihat secara langsung di alam semesta sebenarnya hanyalah bagian kecil dari keseluruhan cerita.

Ironisnya, bagian yang tidak bisa kita lihat justru membantu membentuk bagian yang bisa kita lihat.

Dark matter diperkirakan menjadi semacam kerangka gravitasi tempat galaksi tumbuh.

Tanpa dark matter, struktur alam semesta kemungkinan tidak akan terbentuk seperti sekarang.

Roman Bisa Menguji Seperti Apa Sebenarnya Dark Matter

Mengetahui dark matter ada belum sama dengan mengetahui apa sebenarnya dark matter.

Sampai sekarang para ilmuwan masih mempunyai berbagai kandidat teoritis.

Ada gagasan mengenai partikel berat yang bergerak relatif lambat.

Ada kandidat partikel lain yang jauh lebih ringan.

Ada pula teori yang mencoba menjelaskan fenomena tersebut melalui modifikasi hukum gravitasi.

Roman tidak otomatis menjawab semuanya.

Tetapi peta struktur dark matter dapat menyaring berbagai teori.

NASA memberikan contoh menarik.

Kalau dark matter terdiri dari partikel berat dan bergerak lambat, materi tersebut seharusnya mudah menggumpal sehingga struktur galaksi tertentu dapat terbentuk relatif awal dalam sejarah alam semesta.

Sebaliknya, jenis dark matter yang berbeda dapat menghasilkan pola distribusi yang berbeda.

Roman akan melihat struktur kosmik pada berbagai zaman.

Dari pola itulah para ilmuwan bisa membandingkan observasi dengan prediksi model fisika.

Dengan kata lain, Roman sedang mencari sidik jari.

Bukan wajah pelakunya.

Dark Energy Justru Mungkin Lebih Misterius

Kalau dark matter terdengar aneh, dark energy mungkin lebih membingungkan lagi.

Pada akhir 1990-an astronom menemukan ekspansi alam semesta tidak melambat seperti yang diperkirakan.

Justru semakin cepat.

Sesuatu seolah mendorong ruang mengembang dengan kecepatan yang semakin meningkat.

Nama sementara yang diberikan kepada penyebabnya adalah dark energy.

“Dark” di sini pada dasarnya berarti:

kita tahu efeknya ada, tetapi belum tahu sebenarnya apa.

Roman dirancang mempelajari sejarah ekspansi alam semesta dengan beberapa metode sekaligus.

Weak gravitational lensing menjadi salah satunya.

Metode lain melibatkan pengukuran distribusi galaksi serta supernova.

Dengan melihat bagaimana jarak dan struktur alam semesta berubah selama miliaran tahun, ilmuwan berharap bisa memahami apakah dark energy merupakan konstanta tetap atau sesuatu yang berubah seiring waktu.

Kalau berubah, implikasinya bisa sangat besar terhadap teori dasar fisika.

Roman Akan Membantu Melihat “Kerangka” Alam Semesta

Cara termudah membayangkan pekerjaan Roman mungkin dengan membandingkan alam semesta dengan sebuah kota pada malam hari.

Dari udara, Anda melihat lampu-lampu.

Itulah bintang dan galaksi.

Tetapi Anda tidak melihat jalan, jaringan bawah tanah atau struktur gelap yang mengatur pola kota secara langsung.

Dengan hanya melihat lampunya, Anda mencoba menebak struktur kota.

Dark matter kurang lebih seperti kerangka yang tidak terlihat itu.

Galaksi tidak tersebar secara acak.

Mereka mengikuti struktur besar seperti filamen kosmik.

Ada kelompok galaksi.

Cluster.

Void besar yang relatif kosong.

Distribusi tersebut berkaitan dengan bagaimana dark matter menggumpal selama miliaran tahun.

Dengan survei yang luas, Roman dapat membantu menghasilkan gambaran jauh lebih lengkap mengenai struktur tersebut.

Bukan snapshot satu tempat.

Melainkan atlas.

Roman Juga Berburu Planet di Luar Tata Surya

Lucunya, sambil mencoba memecahkan salah satu misteri terbesar kosmologi, Roman punya pekerjaan sampingan yang tidak kalah menarik.

Mencari planet.

Banyak sekali planet.

Roman akan melakukan survei microlensing menuju bagian padat Bima Sakti.

Microlensing juga menggunakan gravitasi yang membelokkan cahaya, tetapi skalanya lebih kecil.

Ketika sebuah bintang lewat hampir tepat di depan bintang lain dari perspektif kita, gravitasinya memperbesar cahaya bintang di belakang.

Kalau bintang yang bertindak sebagai lensa mempunyai planet, planet tersebut dapat menambahkan pola kecil pada perubahan cahaya.

Dari situlah astronom mengetahui sebuah planet ada.

NASA memperkirakan survei Roman akan memonitor sekitar 100 juta bintang selama ratusan hari dan menemukan sekitar 2.500 planet melalui metode microlensing.

Teleskop ini juga diharapkan menemukan banyak objek yang sulit ditemukan metode lain, termasuk planet dengan orbit jauh dari bintangnya.

Bisa Menemukan Planet yang Tidak Punya Matahari

Ada satu kategori objek yang sangat menarik:

rogue planets.

Planet pengembara.

Mereka tidak mengorbit bintang seperti Bumi mengorbit Matahari.

Kemungkinan planet tersebut terbentuk dalam sebuah sistem lalu terlempar keluar akibat interaksi gravitasi.

Sekarang mereka mengembara sendirian di galaksi.

Gelap.

Dingin.

Nyaris mustahil terlihat menggunakan metode biasa.

Microlensing memberikan peluang untuk menemukan mereka karena planet tetap mempunyai gravitasi meskipun tidak menghasilkan cahaya sendiri.

Jadi Roman sebenarnya menggunakan prinsip serupa pada dua ekstrem.

Gravitasi membantu menemukan planet tak terlihat.

Gravitasi juga membantu menemukan dark matter tak terlihat.

Ada Instrumen Lain yang Bisa Memotret Exoplanet

Roman membawa instrumen kedua bernama Coronagraph Instrument.

Berbeda dari WFI yang menjadi instrumen sains utama, coronagraph Roman merupakan demonstrasi teknologi.

Masalah terbesar ketika ingin memotret planet di luar Tata Surya adalah bintangnya terlalu terang.

Seperti mencoba memotret kunang-kunang yang terbang tepat di sebelah lampu stadion.

Coronagraph bekerja dengan menekan cahaya bintang sehingga objek redup di dekatnya menjadi lebih mudah terlihat.

NASA berharap teknologi pada Roman membantu membuka jalan menuju observatorium masa depan yang suatu hari bisa mengambil gambar planet mirip Bumi secara langsung.

Jadi Roman bukan hanya mempelajari kosmos masa lalu.

Sebagian teknologinya mempersiapkan cara kita mencari dunia lain pada masa depan.

Kenapa Roman Ditempatkan di L2?

Roman akan beroperasi di sekitar Sun-Earth Lagrange Point 2, kawasan yang juga digunakan James Webb.

L2 berada jauh melewati sisi malam Bumi jika dilihat dari Matahari.

Posisi tersebut menguntungkan karena Matahari, Bumi dan Bulan berada pada arah yang relatif sama dari perspektif wahana.

Observatorium bisa menjaga orientasi termal lebih stabil.

Lingkungan ini juga memungkinkan pengamatan langit yang efisien tanpa harus terus menghadapi Bumi yang menghalangi pandangan seperti teleskop orbit rendah.

Roman tidak benar-benar diam di satu titik.

Ia akan mengorbit di sekitar kawasan L2.

Dari sana, teleskop dapat menjalankan survei luas selama misi utamanya yang dirancang sekitar lima tahun, dengan potensi perpanjangan lima tahun lagi.

Kalau instrumennya tetap sehat, Roman bisa bekerja jauh lebih lama.

Hubble awalnya juga tidak dirancang untuk menjadi ikon astronomi selama lebih dari tiga dekade.

Dari Teknologi Satelit Mata-Mata Menjadi Mesin Astronomi

Roman juga punya cerita asal-usul yang cukup unik.

Sebagian dasar hardware optiknya berasal dari teleskop yang awalnya dikembangkan untuk kebutuhan intelijen Amerika Serikat.

National Reconnaissance Office atau NRO menyerahkan dua sistem teleskop yang tidak terpakai kepada NASA pada 2012.

Teknologinya kemudian diadaptasi untuk misi astronomi.

Jadi secara tidak langsung, perangkat yang mempunyai akar pada teknologi pengamatan Bumi akhirnya diarahkan ke arah sebaliknya.

Bukan lagi melihat ke bawah.

Tetapi menatap miliaran galaksi.

Space.com mencatat teknologi optik tersebut berasal dari program satelit pengintaian yang kemudian tidak digunakan sebelum diserahkan kepada NASA.

Perjalanan karier yang cukup ekstrem untuk sebuah teleskop.

Dari dunia intelijen menuju dark matter.

Namanya Menghormati “Ibu Hubble”

Nancy Grace Roman Space Telescope dinamai untuk menghormati astronom Nancy Grace Roman.

Ia merupakan chief astronomer pertama NASA sekaligus perempuan pertama yang memegang posisi eksekutif di badan antariksa tersebut.

Roman memainkan peran sangat penting dalam membangun program astronomi luar angkasa NASA dan memperjuangkan konsep yang akhirnya menjadi Hubble Space Telescope.

Karena perannya itu, ia sering dijuluki “Mother of Hubble”.

Nancy Grace Roman meninggal pada 2018.

Dua tahun kemudian, NASA mengganti nama misi yang sebelumnya dikenal sebagai Wide Field Infrared Survey Telescope atau WFIRST menjadi Nancy Grace Roman Space Telescope.

Ada sesuatu yang cukup puitis di sana.

Perempuan yang membantu membuat Hubble menjadi kenyataan sekarang mempunyai teleskop yang mengambil kekuatan Hubble lalu memperluas pandangannya seratus kali.

Roman Tidak Akan “Menemukan Dark Matter” dalam Semalam

Ini bagian yang penting supaya judul mengenai dark matter tidak berubah menjadi ekspektasi berlebihan.

Tidak ada satu pagi pada 2027 ketika NASA kemungkinan menggelar konferensi pers dan mengatakan:

“Nah, ini foto dark matter.”

Roman tidak bekerja seperti itu.

Data harus dikumpulkan selama bertahun-tahun.

Galaksi harus dipetakan.

Bentuknya harus diukur dengan presisi luar biasa.

Distorsi akibat instrumen harus dipisahkan dari gravitational lensing asli.

Redshift harus dihitung.

Data kemudian dibandingkan dengan simulasi kosmologi.

Kesimpulan mengenai sifat dark matter kemungkinan muncul secara perlahan melalui penelitian bertahun-tahun.

Mungkin Roman menemukan sesuatu yang cocok dengan teori sekarang.

Mungkin menghasilkan batas baru bagi kandidat partikel.

Atau justru menemukan distribusi yang tidak cocok dengan model yang selama ini dipercaya.

Dalam sains, hasil terakhir itulah yang sering paling menarik.

Karena anomali kecil bisa membuka fisika baru.

Teleskop Baru NASA Bisa Mengubah Peta Alam Semesta

James Webb membuat kita terpukau dengan foto galaksi jauh.

Hubble memberi umat manusia gambar kosmos yang menjadi ikon selama puluhan tahun.

Roman mungkin mempunyai warisan berbeda.

Bisa jadi fotonya tidak selalu seviral Nebula Carina dari Webb atau Pillars of Creation milik Hubble.

Tetapi kekuatannya ada pada jumlah.

Seratus juta bintang.

Ratusan juta galaksi untuk studi materi.

Potensi pengukuran cahaya sampai sekitar satu miliar galaksi selama misinya.

Ribuan exoplanet.

Dan salah satu peta struktur dark matter paling detail yang pernah dibuat.

Pada 30 Agustus 2026, Roman meninggalkan Bumi menggunakan Falcon Heavy.

Sekarang ia sedang menuju L2.

Beberapa bulan lagi, penutup instrumennya dibuka dan mesin observasi mulai bekerja.

Lalu manusia kembali melakukan sesuatu yang sebenarnya sudah kita lakukan sejak pertama kali menatap langit.

Mencoba memahami apa yang ada di luar sana.

Bedanya, kali ini kita tidak hanya mencari sesuatu yang terlihat.

Roman akan mencoba menggambar peta dari sesuatu yang tidak pernah tertangkap kamera.

Sesuatu yang mungkin jumlahnya lebih dari lima kali seluruh materi biasa.

Sesuatu yang gravitasinya membantu membentuk galaksi, bintang, Tata Surya dan akhirnya tempat manusia muncul.

Namanya dark matter.

Kita belum tahu apa sebenarnya benda itu.

Tetapi setelah Roman mulai bekerja, setidaknya kita akan memiliki salah satu peta terbaik tentang tempat ia bersembunyi.

Referensi

NASA – “NASA’s Dark Universe-Seeking Nancy Grace Roman Space Telescope Launches”, 30 Agustus 2026. NASA mengonfirmasi Roman berhasil diluncurkan menggunakan SpaceX Falcon Heavy pada pukul 07.26 EDT dan sedang menuju wilayah L2 untuk mempelajari dark matter, dark energy, serta exoplanet.
NASA: Peluncuran Roman Space Telescope

NASA Science – Nancy Grace Roman Space Telescope. Memuat spesifikasi Roman, tanggal peluncuran, Wide Field Instrument serta tujuan ilmiah utama misi.
NASA Science: Roman Space Telescope

NASA Science – “Dark Matter.” Menjelaskan bagaimana Roman akan menggunakan weak gravitational lensing untuk memetakan distribusi dark matter pada ratusan juta galaksi.
NASA: Roman dan Dark Matter

NASA Science – “Why the Roman Space Telescope?” Membahas gravitational lensing, microlensing dan kemampuan Roman dalam mempelajari dark matter sekaligus menemukan exoplanet.
NASA: Mengapa Roman Penting

NASA Science – “About Roman.” Menjelaskan cermin utama 2,4 meter, field of view lebih dari 100 kali Hubble serta kemampuan mengukur cahaya dari sekitar satu miliar galaksi.
NASA: Tentang Roman Space Telescope

NASA Science – “Weak Lensing.” Penjelasan mengenai bagaimana distorsi kecil pada bentuk galaksi dapat digunakan untuk mengungkap keberadaan gumpalan dark matter yang tidak terlihat secara langsung.
NASA: Weak Gravitational Lensing

NASA Science – Roman Space Telescope Wide Field Instrument. Memuat kemampuan WFI melakukan survei luas hingga sekitar seribu kali lebih cepat dibanding Hubble untuk pengamatan tertentu.
NASA: Wide Field Instrument Roman

NASA Jet Propulsion Laboratory – “NASA’s Dark Universe-Seeking Nancy Grace Roman Space Telescope Launches”, 30 Agustus 2026. Membahas peluncuran Roman dan Coronagraph Instrument yang dikembangkan JPL.
NASA JPL: Roman Telescope Launches