Iran meluncurkan gelombang rudal balistik dan drone ke Tel Aviv mulai 28 Februari 2026, sebagai respons langsung atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dalam Operasi Lion’s Roar. Menurut laporan Tempo.co dan Wikipedia Bahasa Indonesia (Maret 2026), sedikitnya 21 orang terluka dalam serangan awal ke Tel Aviv. Konflik ini berdampak pada harga minyak dunia dan kestabilan ekonomi, termasuk rantai pasokan energi Indonesia melalui ancaman blokade Selat Hormuz.
Dalam artikel ini, Anda akan memahami 5 fakta kunci serangan balasan Iran ke Tel Aviv, latar belakang konflik, dampak global, serta implikasi langsung bagi Indonesia.
Apa Pemicu Serangan Balasan Iran ke Tel Aviv pada 2026?

Pemicu langsung serangan Iran ke Tel Aviv adalah operasi militer gabungan AS-Israel bernama Operation Lion’s Roar yang diluncurkan pada 28 Februari 2026. Menurut Suara.com (1 Maret 2026), pemicunya adalah gagalnya negosiasi nuklir di Jenewa — AS menuntut pembongkaran permanen Fordow dan Natanz, penghentian program rudal balistik, serta penghentian dukungan ke proksi seperti Hezbollah dan Hamas, namun Iran menolak keras.
Serangan AS-Israel menyasar fasilitas militer, peluncur rudal, sistem pertahanan udara, serta pusat komando Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di berbagai kota Iran termasuk Teheran. Presiden AS Donald Trump kemudian mengumumkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada 1 Maret 2026 — sebuah eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah konflik AS-Iran.
Iran merespons dengan meluncurkan rudal balistik dan drone dalam Operasi True Promise 4, menargetkan Israel, pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, Bahrain, Qatar, Irak, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Ini menandai dimulainya perang terbuka antar-negara di Timur Tengah.
Key Takeaway: Operation Lion’s Roar pada 28 Februari 2026 — dipicu gagalnya negosiasi nuklir — menjadi pemantik langsung serangan balasan rudal Iran ke Tel Aviv dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Fakta 1 — Berapa Jumlah Rudal yang Diluncurkan Iran ke Israel?

Iran memperkirakan meluncurkan sekitar 150 rudal balistik dalam dua gelombang pada serangan perdana 28 Februari–1 Maret 2026, menurut estimasi IDF yang dikutip Wikipedia (Maret 2026). Dalam 12 jam pertama konflik, AS melaporkan hampir 900 serangan total, sementara Iran membalas dengan sekitar 300 rudal yang juga menyasar UEA, Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Arab Saudi — menurut laporan Tirto.id (3 Maret 2026).
Serangan terus berlanjut dalam puluhan gelombang. Pada Jumat, 6 Maret 2026, IRGC mengumumkan peluncuran gelombang ke-21 Operasi True Promise 4 menggunakan rudal Kheibar ke jantung Tel Aviv, menurut Kompas.com (6 Maret 2026). Pada 8 Maret 2026 — hari ke-9 perang — IRGC merilis rekaman peluncuran gelombang ke-26, menurut Repelita.com.
Pentagon pada Kamis, 5 Maret 2026, menyebutkan jumlah peluncuran rudal balistik Iran turun sekitar 90 persen dibanding hari pertama, setelah ratusan rudal, peluncur, dan drone Iran berhasil dihancurkan oleh serangan AS-Israel. Namun Iran masih mampu meluncurkan serangan ke setidaknya 11 negara kawasan menggunakan drone Shahed berbiaya rendah.
Key Takeaway: Iran meluncurkan lebih dari 150 rudal balistik dalam dua gelombang awal, dilanjutkan puluhan gelombang berikutnya — meski kapasitas rudal turun 90% akibat penghancuran infrastruktur Iran oleh AS-Israel.
Fakta 2 — Apa Saja Jenis Rudal yang Digunakan Iran?

Iran mengerahkan beberapa jenis rudal generasi terbaru dalam Operasi True Promise 4. Menurut laporan Kompas.com (6 Maret 2026) dan Repelita.com (8 Maret 2026), senjata utama yang digunakan meliputi:
- Rudal Kheibar — rudal balistik jarak menengah yang ditembakkan ke jantung Tel Aviv pada gelombang ke-21
- Khorramshahr-4 — membawa hulu ledak hingga 1 ton, diklaim Iran menarget Tel Aviv
- Rudal Emad dan Ghadr — rudal balistik dengan hulu ledak majemuk
- Fattah-2 — rudal hipersonik berkecepatan lebih dari Mach 5 dengan kemampuan manuver yang menyulitkan intersepsi oleh Iron Dome dan Arrow, menurut Times of Islamabad (7 Maret 2026)
- Drone Shahed — produksi massal berbiaya rendah, efektif menguras stok amunisi pertahanan udara musuh
Mantan pilot F-16 TNI AU, Marsekal Muda (Purn.) Agung Sasongkojati, menjelaskan bahwa kombinasi asimetris drone dan rudal Iran membuat pertahanan udara musuh kewalahan, dengan tingkat keberhasilan serangan mencapai 50 persen bahkan 100 persen di beberapa area seperti Haifa — menurut Repelita.com (8 Maret 2026).
Key Takeaway: Iran mengandalkan kombinasi rudal balistik berpresisi tinggi seperti Kheibar dan Khorramshahr-4 dengan drone Shahed berbiaya rendah — strategi asimetris yang efektif menguras sistem pertahanan berlapis Israel.
Fakta 3 — Berapa Korban Jiwa Serangan Rudal Iran di Tel Aviv?

Serangan rudal Iran di Tel Aviv menyebabkan korban jiwa dan luka-luka meski tidak sebesar yang ditakutkan, berkat sebagian besar rudal berhasil dicegat oleh sistem Iron Dome dan Arrow. Menurut Tirto.id (3 Maret 2026), serangan rudal pada 28 Februari 2026 menewaskan satu wanita pengasuh berusia 40-an dan melukai 27 orang, termasuk 7 anak-anak, saat rudal menghantam blok perumahan di Tel Aviv.
Times of Israel (1 Maret 2026) melaporkan seorang warga negara Filipina berusia 32 tahun, Mary Anne Velasquez de Vera, meninggal dunia dalam serangan ke Tel Aviv — ia seorang caregiver yang sedang membantu pasiennya mencari perlindungan saat rudal menghantam. Data Magen David Adom menyebut serangan awal Iran menyebabkan sedikitnya 63 orang terluka — 1 kritis, 1 serius, dan sisanya ringan-sedang, serta 7 tentara luka ringan.
Sementara di pihak Iran, data Palang Merah Iran mencatat sekitar 201 warga sipil tewas dan 747 lainnya luka-luka akibat serangan AS-Israel — termasuk insiden tragis saat serangan menghantam sebuah sekolah dasar perempuan di Minab, Hormozgan, menurut ringkasan dari s3pendsains.fmipa.unesa.ac.id (Maret 2026).
Key Takeaway: Korban di Israel relatif terbatas berkat sistem pertahanan berlapis, namun korban sipil Iran jauh lebih besar — mencerminkan asimetri konflik yang menjadi sorotan komunitas internasional.
Fakta 4 — Bagaimana Dampak Serangan Iran-Israel terhadap Ekonomi Global dan Indonesia?

Dampak ekonomi konflik Iran-Israel 2026 langsung terasa secara global, termasuk bagi Indonesia. Garda Revolusi Iran mengumumkan blokade Selat Hormuz — jalur vital yang menyalurkan sekitar seperempat perdagangan minyak dunia dan seperlima gas alam cair global, menurut EtIndonesia.com (4 Maret 2026).
Data perusahaan pelayaran Kepler per 1 Maret 2026 menunjukkan sedikitnya 40 kapal tanker raksasa tertahan di Teluk Persia, masing-masing membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah. Hanya 4 kapal yang berhasil melintas pada 1 Maret — turun drastis dari 22 kapal sehari sebelumnya. IDNFinancials.com (8 Maret 2026) melaporkan bahwa krisis Selat Hormuz mengancam pasokan belerang (sulfur) untuk produsen nikel Indonesia.
Bagi Indonesia, dampak langsung mencakup:
- Kenaikan harga bahan bakar minyak (pemerintah mengimbau warga tidak panik membeli BBM)
- Gangguan rantai pasokan nikel akibat krisis sulfur di Selat Hormuz
- Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah dan IHSG yang dilaporkan anjlok
- Risiko kenaikan inflasi akibat lonjakan harga energi global
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan Indonesia harus berpihak pada negara yang diserang — menunjukkan adanya tekanan diplomatik yang dihadapi pemerintah RI dalam menyikapi konflik ini, menurut Liputan6.com (2 Maret 2026).
Key Takeaway: Blokade Selat Hormuz oleh Iran menghantam ekonomi global secara langsung — dan Indonesia merasakan dampaknya melalui ancaman kenaikan BBM, gangguan rantai pasokan nikel, serta tekanan terhadap nilai tukar Rupiah.
Fakta 5 — Bagaimana Respons Internasional terhadap Konflik Iran-Israel-AS?

Serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran memicu reaksi luas dari komunitas internasional yang terpolarisasi. Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia (diperbarui Maret 2026), PBB dan mayoritas negara menyerukan penghentian aksi militer dan solusi diplomatik segera.
Beberapa posisi negara kunci:
- Rusia: Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov mengecam serangan AS-Israel sebagai “tindakan agresi bersenjata yang disengaja” dan “bencana kemanusiaan”
- Tiongkok: Menyatakan keprihatinan mendalam namun tidak secara langsung menyalahkan AS atau Israel; Wang Yi berbicara dengan Menlu Iran Abbas Araghchi pada 2 Maret 2026
- Filipina: Presiden Marcos mengerahkan langkah darurat perlindungan warga negara di kawasan konflik
- Qatar: Mengecam keras Iran karena meluncurkan rudal ke wilayah Qatar — menyebutnya pelanggaran kedaulatan
- Yordania: Menembak jatuh dua rudal balistik Iran yang menarget wilayahnya
Inggris, Prancis, Spanyol, dan negara-negara Teluk dilaporkan menolak membantu koalisi AS-Israel secara aktif, menurut analisis Repelita.com (8 Maret 2026). Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat pada 28 Februari 2026, namun tidak menghasilkan resolusi yang mengikat.
Professor Fawaz A. Gerges dari London School of Economics menilai Iran berupaya memperpanjang konflik dengan strategi ketahanan dan penyerapan serangan — bertahan lama tanpa terburu-buru menyerah pada tekanan, menurut Repelita.com (8 Maret 2026).
Key Takeaway: Dunia terpolarisasi — AS, Israel, dan sekutu barat mendukung operasi militer, sementara Rusia, Tiongkok, dan mayoritas negara berkembang mengecam serangan dan mendesak solusi diplomatik.
Baca Juga 5 Fakta Genting Negosiasi Nuklir AS–Iran 2026
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Kapan Iran mulai menyerang Israel dengan rudal pada 2026?
Iran meluncurkan gelombang pertama rudal balistik ke Tel Aviv pada Sabtu malam, 28 Februari 2026, beberapa jam setelah AS dan Israel melancarkan Operasi Lion’s Roar terhadap Iran. Sirene peringatan berbunyi di seluruh Israel dan Yerusalem sejak sekitar pukul 10.00 waktu setempat pada Sabtu itu, menurut Times of Israel dan Kompas.id (28 Februari 2026).
Apa itu Operasi True Promise 4?
Operasi True Promise 4 adalah nama operasi balasan militer Iran terhadap serangan AS-Israel pada 28 Februari 2026. Menurut pernyataan resmi IRGC yang dikutip Kompas.com (6 Maret 2026), operasi ini telah mencapai gelombang ke-21 pada 6 Maret dan gelombang ke-26 pada 8 Maret 2026 — menggunakan kombinasi rudal balistik seperti Kheibar, Khorramshahr-4, dan drone Shahed.
Apakah Tel Aviv hancur akibat serangan rudal Iran?
Tidak. Meski beberapa rudal berhasil menembus sistem pertahanan Iron Dome dan menghantam blok perumahan serta beberapa titik di Tel Aviv, mayoritas rudal berhasil dicegat. Tirto.id (3 Maret 2026) melaporkan kerusakan pada gedung dan kendaraan di sekitar titik hantaman, namun kota Tel Aviv tidak mengalami kehancuran masif. Israel memberlakukan “keadaan darurat khusus” di seluruh negeri.
Bagaimana kondisi Selat Hormuz saat ini?
Per 8 Maret 2026, Selat Hormuz berada dalam kondisi sangat terganggu. Iran mengumumkan blokade Selat Hormuz sebagai respons atas serangan AS-Israel. Data Kepler (1 Maret 2026) mencatat hanya 4 kapal tanker yang berhasil melintas per hari — turun dari 22 kapal per hari sebelum konflik. Kondisi ini mengancam seperempat pasokan minyak dunia melalui laut, menurut EtIndonesia.com.
Bagaimana dampak perang Iran-Israel terhadap Indonesia?
Indonesia menghadapi beberapa risiko langsung: ancaman kenaikan harga BBM karena gangguan pasokan minyak Selat Hormuz, gangguan rantai pasokan nikel akibat krisis sulfur, tekanan inflasi, dan pelemahan Rupiah serta IHSG. Pemerintah Indonesia telah mengimbau warga tidak panik membeli BBM dan memastikan stok energi dalam kondisi aman, menurut Kompas.com (8 Maret 2026).
Apakah pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Khamenei benar-benar tewas?
Ya. Presiden AS Donald Trump mengumumkan kematian Ayatollah Ali Khamenei pada 1 Maret 2026 — akibat serangan gabungan AS-Israel yang menyasar pusat komando dan kediaman Khamenei di Teheran. Iran mengonfirmasi kematian Khamenei melalui media pemerintah, menurut Tempo.co (1 Maret 2026). Meski demikian, Iran menegaskan sistem pemerintahan tetap berjalan dan menolak segala negosiasi dengan AS.
Kesimpulan
Serangan rudal Iran ke Tel Aviv sejak 28 Februari 2026 merupakan eskalasi terbesar dalam sejarah konflik Iran-Israel-AS — dipicu tewasnya Ayatollah Khamenei dan gagalnya negosiasi nuklir. Lima fakta kunci menunjukkan bahwa meski ratusan rudal dan drone diluncurkan dalam puluhan gelombang, konflik ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Dampaknya dirasakan langsung oleh Indonesia melalui gangguan pasokan energi dan tekanan ekonomi. Pantau terus perkembangan situasi Timur Tengah dan subscribe untuk mendapatkan update Berita & Politik terpercaya setiap hari.
Tentang Penulis (Who/How/Why): Artikel ini disusun oleh tim redaksi agfenerji.com yang mengkhususkan diri pada liputan Berita & Politik internasional. Setiap klaim dalam artikel ini bersumber dari outlet berita terverifikasi.
Referensi
- Tempo.co — “Iran Serang Balik Israel, 21 Orang di Tel Aviv Terluka” (1 Maret 2026)
- Kompas.com — “Iran Luncurkan Rudal Kheibar ke Jantung Israel, Ledakan Guncang Tel Aviv” (6 Maret 2026)
- Tirto.id — “Kondisi Israel Usai Iran Balas Serangan, Apakah Tel Aviv Hancur?” (3 Maret 2026)
- Wikipedia Bahasa Indonesia — “Serangan Israel–Amerika Serikat terhadap Iran 2026“
- EtIndonesia.com — “49 Tokoh Tewas, 40 Tanker Tertahan: Krisis Besar yang Mengguncang Energi Dunia” (4 Maret 2026)
- Repelita.com — “Iran Bertahan di Hari Ke-9 Perang: Rudal Masih Mengalir, AS-Israel Gagal Ganti Rezim?” (8 Maret 2026)
