agfenerji.com 23 Febuari 2025
Satpol PP Surabaya Petakan Lokasi Rawan Perang Sarung

Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia, selalu menjadi sorotan karena dinamika kehidupan masyarakatnya yang beragam. Ketika bulan Ramadan tiba, suasana kota ini berubah menjadi lebih religius dengan aktivitas ibadah yang meningkat. Namun, di balik semaraknya ibadah tarawih, sahur, dan kegiatan sosial, ada satu fenomena yang kerap mengusik ketenangan masyarakat: perang sarung. Aksi yang awalnya dianggap sebagai “tradisi” remaja ini sering kali berubah menjadi gangguan ketertiban umum, bahkan berpotensi memicu konflik yang lebih serius. Untuk mengatasi hal ini, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surabaya telah memetakan lokasi-lokasi rawan perang sarung sebagai langkah antisipasi selama Ramadan.
BACA JUGA : Agus Harimurti Yudhoyono: Pemimpin Partai Demokrat di Tengah Badai Politik
Kepala Satpol PP Kota Surabaya, M. Fikser, menjelaskan bahwa pemetaan ini dilakukan berdasarkan data historis dari kejadian-kejadian sebelumnya, laporan warga, serta analisis situasi lapangan. “Kami sudah punya peta kerawanan yang kami perbarui setiap tahun. Ramadan selalu menjadi momen di mana aktivitas remaja di luar rumah meningkat, terutama setelah tarawih atau menjelang sahur,” ujarnya dalam sebuah wawancara. Lokasi-lokasi yang diidentifikasi menjadi fokus utama pengawasan dan patroli intensif guna memastikan Ramadan di Surabaya berjalan aman dan damai.
Lokasi-Lokasi Rawan Perang Sarung
Satpol PP telah mencatat sejumlah titik di Surabaya yang kerap menjadi “arena” perang sarung. Berikut adalah detail lokasi-lokasi tersebut beserta karakteristiknya:
-
- Bawah Jembatan Suramadu

Terletak di sisi Surabaya dari Jembatan Suramadu yang menghubungkan kota ini dengan Madura, area ini menjadi salah satu titik rawan. Kondisi yang relatif sepi pada malam hari, ditambah minimnya pencahayaan, menjadikan lokasi ini ideal bagi kelompok remaja untuk berkumpul. Perang sarung di sini sering kali melibatkan kelompok dari kampung-kampung sekitar seperti Tambak Wedi atau Keputih.
- Bawah Jembatan Suramadu
-
- Jalan Kenjeran

Jalan Kenjeran, yang membentang di wilayah timur Surabaya, adalah arteri penting yang menghubungkan berbagai kawasan. Panjangnya ruas jalan dan banyaknya gang-gang kecil di sekitarnya memungkinkan remaja bersembunyi atau berkumpul tanpa mudah terdeteksi. Selain perang sarung, lokasi ini juga sering menjadi ajang balap liar, terutama di jam-jam sepi menjelang dini hari.
- Jalan Kenjeran
-
- Jalan Kapas Madya

Berlokasi di kawasan padat penduduk, Jalan Kapas Madya dikelilingi oleh permukiman kampung yang rapat. Perang sarung di sini biasanya terjadi antar kelompok remaja dari kampung yang berdekatan, sering kali dipicu oleh rivalitas kecil yang kemudian membesar. Warga setempat kerap melaporkan kebisingan dan keresahan akibat aktivitas ini.
- Jalan Kapas Madya
-
- Jalan Ir. Soekarno (MERR)

Jalan Ir. Soekarno, atau lebih dikenal sebagai MERR (Middle East Ring Road), adalah salah satu jalur utama yang membentang melintasi Surabaya bagian timur hingga selatan. Karena panjangnya dan adanya beberapa segmen yang kurang diawasi, jalan ini sering menjadi tempat berkumpulnya remaja untuk berbagai aktivitas, termasuk perang sarung. Kecepatan akses ke lokasi ini juga memudahkan pelaku untuk kabur jika ada razia.
- Jalan Ir. Soekarno (MERR)
-
- Dekat TPU Rangkah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/552905/original/110818cfoto_main-kuburan.jpg)
Area di sekitar Tempat Pemakaman Umum (TPU) Rangkah, yang terletak di wilayah Surabaya barat, memiliki suasana sepi dan gelap pada malam hari. Kondisi ini dimanfaatkan oleh remaja untuk menggelar perang sarung, sering kali diikuti oleh kegaduhan yang mengganggu warga sekitar. Lokasi ini juga strategis karena dekat dengan pemukiman, namun jauh dari pusat keramaian.
- Dekat TPU Rangkah
-
- Jalan Ngaglik

Jalan Ngaglik, yang berada di pusat kota, dikenal sebagai salah satu kawasan yang ramai pada siang hari namun berubah menjadi ajang nongkrong anak muda pada malam hari. Selama Ramadan, aktivitas di sini meningkat, dan perang sarung menjadi salah satu “hiburan” yang kerap dilakukan oleh remaja setempat.
- Jalan Ngaglik
Strategi Pengamanan Satpol PP
Untuk menangani potensi gangguan ketertiban di lokasi-lokasi tersebut, Satpol PP Surabaya telah menyiapkan strategi komprehensif. Pertama, patroli intensif digelar setiap malam selama Ramadan, dengan melibatkan seluruh personel Satpol PP, baik dari tingkat kota, kecamatan, hingga kelurahan. “Kami bagi tugas sesuai wilayah masing-masing, tapi fokus utama adalah titik-titik rawan ini,” ungkap Fikser. Patroli dilakukan secara berkala, terutama pada jam-jam kritis seperti pukul 22.00 hingga 03.00 WIB, saat aktivitas perang sarung biasanya memuncak.
Kedua, Satpol PP bekerja sama dengan pihak kepolisian, khususnya Polrestabes Surabaya, untuk meningkatkan kehadiran petugas di lapangan. Kolaborasi ini mencakup pertukaran informasi intelijen tentang potensi konflik serta tindakan tegas jika perang sarung berkembang menjadi tawuran yang melibatkan senjata tajam atau benda berbahaya lainnya.
Ketiga, pendekatan preventif juga diterapkan melalui sosialisasi kepada masyarakat. Satpol PP menggandeng tokoh agama, ketua RT/RW, dan orang tua untuk mengedukasi remaja tentang bahaya perang sarung. “Kami ingin warga, terutama orang tua, lebih proaktif mengawasi anak-anak mereka. Perang sarung mungkin terlihat seperti main-main, tapi bisa berakibat fatal, baik secara fisik maupun hukum,” tegas Fikser.
Mengapa Perang Sarung Marak di Ramadan?
Perang sarung bukanlah fenomena baru di Surabaya atau bahkan di Indonesia secara keseluruhan. Aktivitas ini sering dikaitkan dengan tradisi remaja yang ingin mengisi waktu luang selama Ramadan, terutama setelah sholat tarawih atau menjelang sahur. Namun, apa yang awalnya hanya permainan sederhana dengan sarung yang dililit dan dipukulkan ke lawan, kini sering berubah menjadi ajang adu kekuatan antar kelompok. Tidak jarang, sarung yang digunakan dimodifikasi dengan memasukkan benda keras seperti batu atau kayu, sehingga meningkatkan risiko cedera serius.
Menurut pengamatan sosiolog lokal, fenomena ini juga dipengaruhi oleh faktor sosial seperti kebutuhan akan pengakuan di kalangan remaja, minimnya fasilitas kegiatan positif di malam hari, serta pengaruh budaya kompetisi antar kampung yang masih kuat di Surabaya. Ramadan, dengan ritme waktu malam yang lebih aktif, menjadi momen di mana energi remaja tersalurkan ke arah yang kurang produktif.
Harapan untuk Ramadan yang Damai
Pemerintah Kota Surabaya, melalui Satpol PP, berkomitmen untuk menjadikan Ramadan sebagai bulan yang penuh berkah dan kedamaian. Pemetaan lokasi rawan perang sarung ini adalah bagian dari upaya besar untuk menjaga kondusivitas kota. Masyarakat juga diimbau untuk turut berperan aktif dengan melaporkan aktivitas mencurigakan di lingkungan mereka melalui saluran resmi Pemkot Surabaya atau langsung kepada petugas terdekat.
“Ramadan adalah waktu untuk introspeksi dan ibadah, bukan untuk membuat keresahan. Kami harap semua pihak bisa bekerja sama demi Surabaya yang lebih baik,” tutup Fikser. Dengan langkah-langkah yang telah disiapkan, diharapkan tradisi negatif seperti perang sarung dapat diminimalisir, dan warga Surabaya bisa menikmati bulan suci ini dengan tenang dan penuh makna.
