agfenerji.com, 16 MEI 2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Editor: Muhammad Kadafi
Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88.
Jakarta, 2025 – Jakarta Job Fair kembali digelar dengan antusiasme tinggi. Ribuan pencari kerja dari berbagai latar belakang pendidikan, usia, dan pengalaman memadati lokasi acara sejak pagi hari. Namun di tengah riuh harapan untuk mendapatkan pekerjaan, tak sedikit yang harus pulang dengan tangan hampa. Banyak yang mengeluhkan betapa sulitnya menembus kriteria perusahaan, dan sebagian bahkan mulai mempertimbangkan untuk beralih menjadi pengusaha sebagai jalan alternatif.

1. Harapan dan Realita di Balik Jakarta Job Fair

Pameran kerja ini merupakan salah satu upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mengatasi masalah pengangguran, yang angkanya terus bertambah setiap tahun. Jakarta Job Fair digelar secara berkala dan diikuti oleh puluhan hingga ratusan perusahaan dari berbagai sektor seperti perbankan, manufaktur, teknologi informasi, ritel, dan makanan-minuman.
Namun, realita di lapangan tidak selalu seindah yang dibayangkan. Banyak pelamar mengalami kekecewaan karena merasa tidak sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan oleh perusahaan. Persyaratan seperti usia maksimal, pengalaman minimal dua tahun, atau ijazah dari universitas ternama menjadi batu sandungan utama.
2. Terbentur Syarat Administratif: Usia, Pengalaman, dan Pendidikan

Banyak pelamar mengaku tidak lolos seleksi hanya karena usia mereka dianggap tidak lagi muda. Salah satunya adalah Ian (30 tahun), yang sudah berkeliling dari satu booth ke booth lainnya, namun belum mendapat respons positif.
“Lumayan sulit, ya. Bisa jadi karena umur. Perusahaan banyak cari yang usianya 25 ke bawah, padahal saya masih sangat mampu dan punya banyak motivasi kerja,” tutur Ian, yang sebelumnya bekerja di sektor layanan pelanggan.
Ian bukan satu-satunya yang merasakan hal tersebut. Rata-rata perusahaan masih mematok batas usia ideal di kisaran 18–27 tahun untuk posisi staf dan entry-level. Ini menjadi dilema tersendiri bagi mereka yang baru bisa menyelesaikan kuliah atau memiliki jeda karier karena kondisi pribadi.
Tak hanya soal usia, pengalaman kerja juga menjadi syarat yang banyak dikeluhkan. Banyak fresh graduate kesulitan menembus dunia kerja karena diminta memiliki pengalaman minimal dua tahun—ironis, mengingat mereka belum pernah mendapatkan kesempatan kerja pertama.
3. Banyak Lowongan, Tapi Mengapa Pengangguran Tetap Tinggi?

Fenomena ini juga menjadi perhatian anggota DPRD DKI Jakarta. Menurut Lukmanul Hakim, anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, job fair memang menjanjikan, tetapi implementasi dan keberhasilannya perlu dikaji ulang.
“Kami melihat ketidaksesuaian antara lowongan yang tersedia dan kualifikasi para pencari kerja. Banyak yang hadir dan melamar, tapi tetap pulang dengan tangan kosong. Perlu ada sinkronisasi antara kurikulum pelatihan, pendidikan, dan kebutuhan riil di lapangan,” jelas Lukmanul.
Selain itu, ia menyebut perlunya program pendampingan pasca-job fair. Banyak pencari kerja yang tidak tahu bagaimana membuat CV yang baik, mempersiapkan wawancara, atau mengenali peluang kerja di sektor-sektor baru yang sedang berkembang.
4. Mimpi yang Bergeser: Dari Pekerjaan Formal ke Kewirausahaan

Kekecewaan demi kekecewaan mendorong sebagian pencari kerja untuk memutar haluan. Mereka yang semula bercita-cita menjadi karyawan tetap kini mulai mempertimbangkan opsi untuk menjadi pengusaha, meski penuh tantangan.
Salah satu kisah datang dari Wawan (23 tahun), yang sebelumnya bekerja sebagai pengemudi ojek online. Pendapatannya tidak mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, apalagi untuk membayar cicilan motor.
“Narik ojek sekarang rugi. Bensin mahal banget, pemasukan cuma cukup buat makan. Tapi cicilan motor tetap harus dibayar. Akhirnya saya pikir, mungkin lebih baik saya mulai usaha kecil-kecilan,” katanya.
Wawan kini mencoba berjualan makanan ringan di sekitar tempat tinggalnya. Ia memanfaatkan media sosial dan layanan pesan antar untuk memasarkan produknya. Meski pendapatannya belum besar, ia merasa lebih puas karena bisa mengatur waktu dan usahanya sendiri.
5. Tantangan Menjadi Pengusaha Pemula

Memulai usaha sendiri tentu bukan tanpa rintangan. Modal menjadi kendala utama, di samping pengetahuan bisnis yang minim dan ketatnya persaingan pasar. Meski begitu, sejumlah lembaga pemerintah maupun swasta mulai menyediakan pelatihan kewirausahaan dan akses pembiayaan mikro.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Koperasi dan UMKM juga telah meluncurkan program-program seperti:
-
Pelatihan digital marketing
-
Pembuatan NIB (Nomor Induk Berusaha) gratis
-
Pembiayaan modal melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR)
Langkah-langkah ini diharapkan bisa menjadi solusi jangka panjang bagi pencari kerja yang memilih jalur mandiri.
6. Masa Depan Dunia Kerja: Perlu Adaptasi dan Kolaborasi

Perubahan lanskap dunia kerja juga menjadi tantangan tersendiri. Teknologi, otomatisasi, dan perubahan gaya hidup masyarakat menyebabkan beberapa jenis pekerjaan menjadi usang, sementara yang lain justru berkembang pesat.
Menurut pengamat ketenagakerjaan, Dr. Dina Oktaviani, ke depan para pencari kerja harus membekali diri dengan keterampilan baru.
“Skill digital, komunikasi, problem solving, dan adaptabilitas menjadi sangat penting. Dunia kerja bergerak cepat, dan kalau tidak ikut belajar, kita bisa tertinggal,” jelasnya.
Ia menyarankan agar pencari kerja tak hanya mengandalkan ijazah, tapi juga mengikuti kursus, pelatihan, atau sertifikasi yang relevan.
Kesimpulan
Cerita para pencari kerja di Jakarta Job Fair menunjukkan bahwa dunia kerja saat ini penuh tantangan yang kompleks. Tidak hanya sekadar soal jumlah lowongan, tapi juga kesesuaian kualifikasi, sistem rekrutmen yang ketat, dan dinamika ekonomi yang terus berubah.
Bagi mereka yang gagal menembus dunia kerja formal, menjadi pengusaha adalah pilihan logis—meskipun bukan tanpa risiko. Dukungan dari pemerintah, pendidikan yang relevan, serta semangat untuk terus belajar menjadi kunci utama agar para pencari kerja tetap bisa bertahan, berkembang, dan berkontribusi bagi perekonomian bangsa.
BACA JUGA: Ujian Nasional Dihapus, Diganti Tes Kemampuan Akademik: Ini Penjelasan Lengkapnya
BACA JUGA: Serangan Rudal Houthi ke Israel: Isyarat Eskalasi Konflik Regional Timur Tengah

