agfenerji.com, 12-04-2025
Penulis: Riyan Wicaksono

Ankara, Turki – Dalam kunjungan kenegaraan ke Turki pada awal April 2025, Presiden terpilih Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan sebuah pernyataan reflektif yang menggambarkan perjalanan politiknya yang panjang, sarat tantangan, serta penuh pembelajaran. Di hadapan delegasi dan wartawan internasional, Prabowo mengungkapkan bahwa dirinya telah mencalonkan diri sebagai presiden sebanyak empat kali, dan mengalami kekalahan dalam tiga kesempatan sebelumnya. Namun, ia menegaskan bahwa pengalaman-pengalaman itu tidak sedikit pun mengurangi keyakinannya terhadap nilai dan proses demokrasi.
“Saya sudah mengikuti pemilu empat kali. Tiga kali rakyat menolak saya, dan saya menerima keputusan itu. Kali ini mereka memberikan mandat. Demokrasi bekerja. Jadi mengapa harus ada kekhawatiran?” — Prabowo Subianto
Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap kritik dari sejumlah pengamat politik, media asing, dan aktivis demokrasi yang mempertanyakan komitmen Prabowo terhadap prinsip demokrasi, mengingat latar belakang militer dan hubungannya dengan Presiden Joko Widodo yang juga menjadi sorotan.
Perjalanan Politik: Dari Kalah ke Menang
Prabowo Subianto bukan nama baru dalam perpolitikan Indonesia. Ia pertama kali mencalonkan diri sebagai wakil presiden pada tahun 2009 berpasangan dengan Megawati Soekarnoputri. Pasangan ini kalah telak dari pasangan petahana Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono. Tahun 2014, Prabowo kembali maju, kali ini sebagai calon presiden, berhadapan langsung dengan Joko Widodo. Hasilnya, Prabowo kalah tipis, dan kembali kalah dalam kontestasi serupa pada tahun 2019.
Meski mengalami tiga kekalahan beruntun, Prabowo menunjukkan ketangguhan mental yang luar biasa. Alih-alih menarik diri dari dunia politik, ia menerima tawaran untuk bergabung ke dalam kabinet Jokowi sebagai Menteri Pertahanan—langkah yang dipandang oleh banyak pihak sebagai bentuk kedewasaan politik.
“Saya belajar dari kekalahan. Politik bukan hanya tentang menang. Ini tentang mengabdi,” kata Prabowo dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam pidatonya saat dideklarasikan sebagai calon presiden oleh Partai Gerindra pada tahun 2023.
Akhirnya, pada pemilu 2024, Prabowo mencalonkan diri untuk keempat kalinya. Bersama Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden, pasangan ini berhasil memenangkan suara mayoritas, menjadikannya presiden terpilih Republik Indonesia untuk periode 2024–2029.
Komitmen terhadap Demokrasi: Retorika atau Kenyataan?
Kemenangan Prabowo 2024 tidak luput dari kontroversi. Sebagian pihak menilai kemenangan ini sebagai hasil dari “rekayasa politik”, mengingat Gibran, putra sulung Presiden Jokowi, mencalonkan diri di tengah perdebatan etika dan keputusan Mahkamah Konstitusi terkait batas usia capres-cawapres.
Namun, Prabowo bersikukuh bahwa proses yang ia jalani adalah sah dan konstitusional. Ia bahkan menyatakan bahwa dirinya adalah bukti bahwa demokrasi di Indonesia bekerja—karena ia berkali-kali mengikuti pemilu secara terbuka, menerima hasil kekalahannya, dan pada akhirnya mendapatkan mandat dari rakyat.
“Tidak ada yang menjamin saya menang. Tidak ada yang bisa membeli suara rakyat. Mereka memilih saya karena percaya. Dan saya akan jaga kepercayaan itu.”
Ia juga menampik tuduhan bahwa kehadirannya di pucuk pemerintahan akan mengancam kebebasan sipil atau demokrasi. “Saya akan jadi pemimpin untuk semua rakyat Indonesia, termasuk yang tidak memilih saya. Demokrasi itu bukan hanya soal menang atau kalah, tapi bagaimana kita tetap bersatu setelahnya,” ujarnya dalam wawancara bersama media internasional.
Dari Militer ke Politik: Mitos dan Realitas
Prabowo Subianto adalah mantan jenderal bintang tiga, mantan Komandan Jenderal Kopassus dan Panglima Kostrad, yang karier militernya berakhir kontroversial pada akhir Orde Baru. Sejak saat itu, ia memilih jalur politik sipil dan aktif membangun Partai Gerindra sebagai kendaraan politik utamanya.
Kritikus sering kali mengaitkan latar belakang militer Prabowo dengan potensi otoritarianisme. Namun dalam beberapa tahun terakhir, Prabowo secara konsisten menekankan pentingnya supremasi sipil dalam pemerintahan demokratis.
“Saya adalah bagian dari reformasi. Saya ikut menerima keputusan politik bahwa militer harus profesional. Saya tidak pernah berniat mundur dari demokrasi. Justru saya ingin memperkuatnya dengan kepemimpinan yang tegas dan adil.”
Pelajaran dari Kekalahan: Strategi Politik Baru
Dalam beberapa pidatonya, Prabowo mengakui bahwa ia banyak belajar dari pengalaman masa lalu. Jika pada pemilu-pemilu sebelumnya ia tampil dengan gaya retoris dan konfrontatif, pada 2024 ia tampil lebih lembut, bersahabat, dan menggandeng banyak kekuatan politik, termasuk yang dulu pernah menjadi lawan.
Ia pun sering mengutip pepatah Jawa dan filosofi hidup yang menekankan pentingnya memperbanyak teman dan meminimalisir permusuhan.
“Seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak. Itu pelajaran paling berharga dalam politik.”
Ia juga membangun citra sebagai tokoh yang mampu menyatukan. Tidak heran jika ia mendapat dukungan dari partai-partai besar serta tokoh-tokoh nasional lintas spektrum.
Visi Prabowo ke Depan: Ekonomi, Pertahanan, dan Persatuan Nasional
Sebagai presiden terpilih, Prabowo menyampaikan komitmennya untuk melanjutkan pembangunan ekonomi yang inklusif, memperkuat sektor pertahanan nasional, dan menciptakan tata kelola pemerintahan yang bersih dan efisien. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada tempat bagi diskriminasi atau intoleransi dalam Indonesia yang ia pimpin.
“Saya ingin jadi pemimpin semua golongan—Muslim, Kristen, Hindu, Buddha, semua suku, semua budaya. Kita adalah bangsa besar. Kita harus bersatu.”
Prabowo juga menyebut bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh stabilitas politik. Untuk itu, ia mengajak semua pihak untuk menjaga suasana damai pasca pemilu dan menghormati hasil demokrasi.
Kesimpulan: Demokrasi dalam Wajah Prabowo
Prabowo Subianto mungkin adalah satu dari sedikit politisi Indonesia yang punya karier penuh gejolak, namun tetap bertahan dan pada akhirnya menang. Dari tiga kekalahan yang menyakitkan, ia belajar untuk lebih matang dan inklusif. Kemenangan keempatnya bukan hanya kemenangan pribadi, tapi juga sebuah pembuktian bahwa demokrasi, walau tidak sempurna, tetap membuka ruang bagi siapa saja yang siap bertarung secara konstitusional.
Kini, dengan amanat besar di tangan, rakyat menanti: apakah Prabowo benar-benar akan memimpin dengan semangat demokratis seperti yang ia janjikan? Ataukah justru akan kembali pada gaya lama yang kuat namun eksklusif?
Hanya waktu yang akan menjawab. Namun satu hal pasti: sejarah telah mencatat bahwa seorang Prabowo Subianto, yang tiga kali kalah dalam pemilu, tetap percaya pada demokrasi. Dan kali ini, demokrasi membalasnya dengan kemenangan.
BACA JUGA: Soal Sekolah Rakyat, Pakar: Sekolah yang Sudah Ada Mestinya Jadi Prioritas
BACA JUGA: Titiek Puspa: Pahlawan Kebudayaan dan Kesenian yang Abadi dalam Kenangan Bangsa
