agfenerji.com,18 APRIL 2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Editor: Muhammad Kadafi
Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88
Simbol Persaudaraan dan Toleransi dalam Wajah Jakarta Multikultural

Jakarta, April 2025 — Perayaan Tri Hari Suci, salah satu momen paling penting dalam kalender liturgi umat Katolik, berlangsung dengan penuh khidmat dan tertib di kawasan Jakarta Pusat. Namun, ada hal yang menjadi perhatian khusus masyarakat luas: untuk kedua kalinya sejak diresmikan, Terowongan Silaturahim yang menghubungkan dua rumah ibadah ikonik—Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta—difungsikan secara aktif untuk mendukung kelancaran pelaksanaan ibadah Tri Hari Suci.
Dalam konteks kerukunan antarumat beragama, pengoperasian terowongan ini tidak hanya menjadi fasilitas penunjang, tetapi juga simbol kuat dari harmoni, toleransi, dan semangat kebersamaan yang tumbuh subur di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Latar Belakang Pembangunan Terowongan

Gagasan pembangunan Terowongan Silaturahim lahir dari semangat mempererat hubungan antarumat beragama, terutama antara umat Islam dan Katolik yang beribadah di dua tempat sakral yang letaknya berseberangan di pusat ibu kota. Masjid Istiqlal—masjid terbesar di Asia Tenggara—berdiri megah sebagai simbol kemerdekaan Indonesia, sementara Gereja Katedral Jakarta yang berarsitektur neogotik Eropa merupakan pusat Keuskupan Agung Jakarta dan salah satu gereja tertua di Indonesia.
Dibangun pada tahun 2020 dan rampung pada 2021 oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), terowongan ini memiliki spesifikasi sebagai berikut:
-
Panjang: 28,3 meter
-
Lebar: 4,1 meter
-
Tinggi: 3 meter
-
Total biaya pembangunan: ± Rp 38,9 miliar
Meski dimensi terowongan tidak besar, nilainya terletak pada pesan filosofis dan sosial yang diusung: penghubung dua keyakinan yang berbeda dalam semangat persaudaraan.
Seni dan Spiritualitas di Dalam Terowongan

Tidak seperti terowongan biasa, ruang ini dirancang dengan pendekatan interdisipliner, menggabungkan fungsi praktis dengan unsur estetika dan kontemplatif.
Di dalam terowongan, terdapat instalasi seni permanen bertajuk “Wot Hati”, hasil karya seniman legendaris Sunaryo. Instalasi tersebut menampilkan dua tangan yang tampak ingin saling menggenggam—representasi dari sikap saling terbuka, rendah hati, dan menerima perbedaan. Instalasi ini tidak sekadar menghias ruang, tetapi juga menjadi media refleksi bagi setiap pejalan kaki yang melintasinya.
Selain visual, pengunjung juga akan merasakan atmosfer spiritual melalui suara-suara ritual keagamaan yang diputar bergantian: lantunan ayat suci Al-Qur’an, kumandang azan, dan nyanyian liturgi gereja. Kombinasi ini memberikan suasana kontemplatif yang menenangkan dan menyatukan, terlepas dari latar belakang agama pengunjung.
Peran Terowongan dalam Perayaan Tri Hari Suci

Tri Hari Suci terdiri dari Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Suci yang berpuncak pada Minggu Paskah. Di Jakarta, ribuan umat Katolik berkumpul di Gereja Katedral untuk mengikuti misa dan perayaan liturgi sepanjang pekan suci tersebut.
Menghadapi lonjakan jumlah jemaah, akses dan mobilitas menjadi perhatian utama. Terowongan Silaturahim pun dimanfaatkan secara aktif untuk mendukung:
-
Akses dari Masjid Istiqlal ke Katedral: Umat Katolik dapat memarkirkan kendaraan mereka di kawasan Masjid Istiqlal—yang memiliki lahan parkir luas—dan berjalan kaki melalui terowongan menuju Gereja Katedral.
-
Pengaturan lalu lintas dan keamanan: Menghindari penumpukan kendaraan dan pejalan kaki di jalan raya, serta menjaga ketertiban di sekitar Lapangan Banteng dan Jalan Katedral.
-
Efisiensi waktu dan kenyamanan jemaah: Terutama bagi lansia, anak-anak, dan keluarga besar yang datang dari luar kota.
Pengamanan berlapis disiagakan selama penggunaan terowongan, termasuk pemeriksaan barang bawaan di dua titik:
-
Gerbang parkir Masjid Istiqlal
-
Pintu masuk terowongan
Aparat gabungan dari Kepolisian, TNI, Satpol PP, serta pengelola kedua tempat ibadah bekerja sama menjaga keamanan dan kenyamanan bagi seluruh jemaah.
Simbol Toleransi yang Nyata

Lebih dari sekadar penghubung fisik, terowongan ini menjadi simbol perdamaian dan kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Warga Jakarta, tokoh lintas agama, dan media internasional memuji keberadaan fasilitas ini sebagai bentuk nyata bahwa harmoni bisa dibangun melalui tindakan sederhana namun bermakna.
Penggunaan terowongan oleh umat Katolik, dengan restu penuh dari pengelola Masjid Istiqlal, memperlihatkan bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi halangan untuk saling menghormati dan mendukung. Bahkan, beberapa pengurus Masjid Istiqlal turut membantu mengarahkan jemaah Katolik yang hendak mengikuti misa, menciptakan suasana damai yang menyentuh banyak hati.
Respons Masyarakat dan Tokoh Agama
Banyak umat Katolik yang menyampaikan rasa terima kasih atas kenyamanan yang diberikan. Seorang jemaah dari Bogor menyebutkan:
“Ini pengalaman spiritual yang luar biasa. Tidak hanya beribadah, tapi juga merasakan makna persaudaraan yang sesungguhnya.”
Sementara itu, Imam Besar Masjid Istiqlal dan Uskup Agung Jakarta mengeluarkan pernyataan bersama, menekankan pentingnya menjaga nilai toleransi dan dialog antaragama.
“Kami percaya bahwa iman yang kuat tidak menghalangi kita untuk saling menghormati. Justru dari keyakinan itulah tumbuh semangat untuk hidup bersama secara damai.”
Penutup: Terowongan yang Menyatukan Hati
Pengoperasian Terowongan Silaturahim selama perayaan Tri Hari Suci 2025 bukan hanya keputusan logistik, tetapi langkah nyata membangun Indonesia yang inklusif dan penuh kasih. Ini adalah ruang yang tak hanya menghubungkan dua tempat ibadah, tetapi juga menghubungkan hati, pikiran, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Harapannya, terowongan ini menjadi inspirasi bagi kota-kota lain di Indonesia dan dunia, bahwa perbedaan bukanlah jurang, melainkan jembatan menuju masa depan yang lebih toleran dan bersatu.

