agfenerji.com, 25 APRIL 2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Editor: Muhammad Kadafi
Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88
![Tragedi di Balik Panggung: Eks Pemain Sirkus OCI Ungkap Penyiksaan, Taman Safari Indonesia Membantah Keterlibatan 2 [FULL] Buka-bukaan di DPR Bahas Dugaan Penaniayaan eks Pemain Sirkus OCI Taman Safari](https://i.ytimg.com/vi/tyDyfEsl1J0/maxresdefault.jpg)
Bogor, Indonesia – Publik dikejutkan oleh pengakuan sejumlah mantan pemain sirkus dari Oriental Circus Indonesia (OCI), yang mengaku mengalami berbagai bentuk kekerasan dan perlakuan tidak manusiawi selama bertahun-tahun bekerja di lingkungan sirkus yang beroperasi di bawah naungan Taman Safari Indonesia (TSI). Pengakuan mengejutkan ini mencuat dalam audiensi yang digelar bersama Wakil Menteri Hukum dan HAM RI, Edward Omar Sharif Hiariej.
“Bunker Penyiksaan”: Tempat Tinggal yang Mengubah Hidup

Bangunan yang sebelumnya menjadi tempat tinggal para pemain sirkus OCI kini menjadi sorotan. Bangunan ini dijuluki sebagai “bunker penyiksaan” oleh kuasa hukum korban. Di dalamnya, para pemain diduga pernah dikurung, dirantai, hingga disiksa secara fisik dan psikologis. Meski dari luar tampak seperti barak sederhana, kisah kelam di dalamnya menyeret opini publik pada praktik eksploitasi modern yang selama ini tersembunyi di balik kemegahan pertunjukan sirkus.
Pengakuan Mengerikan Para Korban

Salah satu mantan pemain sirkus, yang dikenal dengan nama Butet, mengungkapkan pengalamannya yang memilukan. Ia menyatakan pernah dipaksa tampil dalam pertunjukan meski sedang hamil dan dalam kondisi tidak sehat. Bahkan, dalam satu insiden, ia dirantai dengan rantai gajah sebagai bentuk hukuman. Lebih jauh lagi, ia mengaku pernah dijejali kotoran hewan oleh pelatih sebagai sanksi atas kesalahan kecil.
Putrinya, Fifi, yang juga merupakan mantan pemain sirkus, turut memberikan kesaksian memilukan. Ia mengaku pernah diseret oleh pelatih, dikurung di kandang macan, hingga mengalami penyetruman. Dalam upaya melarikan diri, Fifi pernah menyusuri hutan, namun akhirnya ditemukan kembali dan diklaim mendapat perlakuan lebih buruk setelah penangkapan.
Kisah-kisah ini bukan hanya mencerminkan kekerasan fisik, tetapi juga menggambarkan bentuk eksploitasi sistematis terhadap pekerja hiburan yang seharusnya dilindungi oleh hukum dan norma kemanusiaan.
Bantahan dari Pihak Taman Safari Indonesia

Menanggapi tuduhan tersebut, pihak manajemen Taman Safari Indonesia secara tegas membantah keterlibatannya. Komisaris TSI, Tony Sumampouw, menyatakan bahwa Taman Safari tidak memiliki hubungan hukum atau operasional langsung dengan para pemain sirkus tersebut, dan menyebut tuduhan penyetruman sebagai sesuatu yang “tidak masuk akal”.
Selain itu, pihak OCI juga memberikan pembelaan. Pendiri OCI mengatakan bahwa praktik penggunaan rotan atau hukuman fisik adalah bagian dari metode pelatihan lama yang sudah tidak lagi diterapkan. Namun demikian, pernyataan ini justru memicu kecaman lebih luas dari publik yang menilai bahwa alasan tersebut tidak dapat membenarkan kekerasan dalam bentuk apapun.
Respon Pemerintah dan Penyelidikan

Kementerian Hukum dan HAM menegaskan komitmennya untuk menyelidiki kasus ini secara menyeluruh. Wakil Menteri Hukum dan HAM, Edward Omar Sharif Hiariej, menyampaikan bahwa semua pihak yang terlibat akan dipanggil untuk memberikan keterangan. Pemerintah juga tengah mempertimbangkan langkah hukum yang memungkinkan pemenuhan hak-hak korban, termasuk pemulihan psikologis dan kompensasi.
Komisi III DPR RI, melalui anggotanya Abdullah Hehamahua, turut menyoroti kasus ini. Ia mendesak Kepolisian Republik Indonesia agar segera mengambil tindakan konkret guna menuntaskan kasus dugaan kekerasan dan eksploitasi ini secara adil dan transparan.
Sorotan Publik dan Relevansi Isu HAM

Kasus ini dengan cepat menjadi isu nasional yang mencuat di berbagai platform media sosial dan pemberitaan. Banyak pihak menyuarakan keprihatinannya atas lemahnya perlindungan hukum bagi para pekerja sektor hiburan, terutama yang melibatkan anak-anak atau keluarga dalam sistem kerja semi tertutup.
Penggunaan anak dalam pertunjukan sirkus, penahanan terhadap pekerja, serta praktik hukuman fisik yang membekas secara psikologis menjadi bagian dari permasalahan besar yang perlu dibongkar dan ditindaklanjuti secara serius.
Penutup
Kasus dugaan penyiksaan dan eksploitasi terhadap mantan pemain sirkus Oriental Circus Indonesia membuka tabir kelam di balik industri hiburan yang selama ini terkesan gemerlap. Meski pihak Taman Safari membantah keterlibatannya, pengakuan para korban tidak bisa diabaikan begitu saja.
Masyarakat kini menantikan langkah konkret dari pemerintah dan lembaga penegak hukum untuk mengusut kasus ini hingga tuntas. Perlindungan terhadap hak asasi manusia, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan pekerja sektor informal, menjadi agenda mendesak yang tidak boleh ditunda.
BACA JUGA: Deretan Pemimpin Dunia yang Bakal Hadiri Pemakaman Paus Fransiskus

